Lewati ke isi

Renungan Teologis

Perintah Allah: Pagar Pengaman, Bukan Sangkar

Batas yang Dikelilingi Kelimpahan

Perintah Allah: Pagar Pengaman, Bukan Sangkar

Perintah Allah Dikelilingi oleh Kemurahan Hati

Kejadian 1–2 memberikan gambaran tentang kemurahan hati yang luar biasa.

Allah telah menyediakan bagi manusia kehidupan, makanan, keindahan, tujuan, relasi, pekerjaan, dan istirahat.

Kemudian, dalam Kejadian 2:16–17, Allah memberikan perintah mengenai pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Penting untuk memperhatikan konteksnya.

Allah tidak berkata, "Kamu tidak boleh memiliki apa-apa."

Ia memberikan kebebasan kepada Adam untuk makan dari setiap pohon di taman, dengan satu batas yang jelas.

Perintah itu dikelilingi oleh kemurahan hati.

Adam tidak hidup dalam kekurangan. Ia hidup dalam kelimpahan.

Sebuah jalan tenang di samping pagar pelindung
Sebuah batas dapat melindungi perjalanan.
Pohon buah dalam cahaya pagi yang hangat
Taman itu dipenuhi kelimpahan.

Pagar Pengaman di Jalan Pegunungan

Bayangkan mengemudi di jalan sempit dengan jurang yang curam di salah satu sisinya.

Anda melihat pagar pengaman yang kokoh di sepanjang tepinya.

Pagar itu tidak berarti:

"Jalan ini tidak adil karena kamu tidak boleh berkendara ke sana."

Pagar itu berarti:

"Ada bahaya di balik batas ini, dan aku cukup mengasihimu untuk memperingatkan dan melindungimu."

Pagar itu bukan dipasang karena sang perancang ingin merampas sesuatu yang indah dari Anda.

Pagar itu dipasang karena sang perancang mengetahui sesuatu yang tidak dapat Anda lihat.

Demikian pula, perintah Allah dapat kita pahami.

Batas-batas Allah bukanlah sangkar.

Batas-batas itu adalah pagar pengaman.

Allah Melihat Apa yang Tidak Dapat Kita Lihat

Seorang anak mungkin melihat pagar dan berpikir, "Mengapa aku tidak boleh ke sana?"

Orang tuanya melihat jurang.

Anak itu melihat batas.

Orang tuanya melihat bahaya.

Allah melihat seluruh keadaan. Kita tidak.

Karena itu kepercayaan sangat penting.

Perintah Allah dalam Kejadian 2 bukan sekadar ujian apakah Adam dan Hawa mampu mengikuti sebuah aturan.

Perintah itu adalah undangan untuk mempercayai hikmat Sang Pencipta.

Pertanyaan di balik perintah itu adalah:

"Apakah kamu cukup percaya kepada-Ku untuk percaya bahwa batas yang Aku tetapkan adalah untuk kebaikanmu?"

Dosa Dimulai dengan Ketidakpercayaan

Strategi ular dalam Kejadian 3 bukan hanya menyuruh Adam dan Hawa melanggar perintah Allah.

Ular terlebih dahulu menyerang pemahaman mereka tentang karakter Allah.

Pertanyaan "Tentulah Allah berfirman...?" muncul dalam Kejadian 3:1.

Kemudian ular menyiratkan bahwa Allah sedang menahan sesuatu dari mereka (Kejadian 3:4–5).

Kebohongan itu pada dasarnya adalah:

"Allah sebenarnya tidak sungguh-sungguh menjaga kamu. Allah sedang menahan sesuatu yang baik darimu."

Jika Adam dan Hawa percaya bahwa Allah itu baik, mereka dapat mempercayai batas yang diberikan-Nya.

Tetapi jika mereka percaya bahwa Allah sedang menahan sesuatu yang baik, batas itu mulai terlihat seperti penghalang.

Ketika mereka mulai meragukan kebaikan Allah, ketidaktaatan menjadi jauh lebih mudah.

Tragedi Eden

Mereka tidak sedang kelaparan.

Mereka tidak sedang ditindas.

Mereka tidak hidup dalam lingkungan yang bermusuhan.

Mereka berada di Eden.

Mereka memiliki makanan, keindahan, pekerjaan yang bermakna, satu sama lain, dan penyediaan Allah.

Dan mereka hanya memiliki satu larangan.

Namun ular berhasil meyakinkan mereka bahwa penyediaan Allah tidak cukup.

Godaan itu menjadi:

"Allah telah memberikan banyak hal kepadaku—tetapi aku menginginkan satu hal yang Ia tahan dariku."

Itulah kebohongannya.

Allah bukan sedang menahan sesuatu yang baik dari mereka.

Ia sedang melindungi mereka dari sesuatu yang merusak.

Ketaatan adalah Respons terhadap Kepercayaan

Kita tidak seharusnya berpikir:

"Allah telah memberikan semua ini kepadaku, maka aku berutang ketaatan kepada-Nya."

Itu dapat mengubah anugerah menjadi transaksi.

Allah tidak membutuhkan apa pun dari kita. Kisah Para Rasul 17:24–25 menjelaskan hal itu.

Sebaliknya:

Karena Allah itu baik dan dapat dipercaya, ciptaan-Nya dapat mempercayai-Nya dan karena itu menaati-Nya.

Ketaatan adalah respons terhadap kepercayaan.

Allah tidak membutuhkan ketaatan kita.

Kita membutuhkan hubungan yang ditandai oleh kepercayaan dan ketaatan karena kita adalah ciptaan dan Dia adalah Pencipta.

Dari "Apa yang Boleh Saya Lakukan?" Menjadi "Dapatkah Saya Mempercayai Allah?"

Jika kita melihat perintah Allah sebagai pembatas, ketaatan dapat terasa seperti:

"Allah ingin menghentikan saya menikmati hidup."

Tetapi jika kita melihat perintah Allah sebagai pagar pengaman, ketaatan menjadi:

"Allah mengetahui apa yang tidak dapat saya lihat, maka saya dapat mempercayai-Nya."

Pertanyaannya berubah dari "Apa yang boleh saya lakukan?" menjadi:

"Apa yang diketahui Allah yang tidak saya ketahui?"

Godaan yang Sama Hari Ini

Godaan dalam Kejadian 3 masih sangat kita kenal.

Allah berkata, "Jangan ke sana."

Hati kita bertanya, "Mengapa tidak?"

Kemudian musuh berbisik:

"Karena Allah sedang menahan sesuatu yang baik darimu."

Tiba-tiba pagar pengaman terlihat seperti penghalang, bukan perlindungan.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

"Apakah saya cukup mempercayai Allah untuk percaya bahwa batas yang Ia tetapkan adalah untuk kebaikan saya?"

Jika saya sungguh percaya bahwa Allah itu baik, saya dapat mempercayai-Nya.

Jika saya mempercayai-Nya, saya dapat menaati-Nya.

Ketika saya tidak memahami perintah-Nya, saya dapat bertanya:

"Apa yang Allah ketahui yang tidak saya ketahui?"

"Tidak" dari Allah Dapat Menjadi Ungkapan Kasih

Perintah Allah bukan dirancang untuk merampas kebaikan dari kita; perintah-Nya dirancang untuk melindungi kita dari kejahatan dan konsekuensi ketika kita menolak rancangan-Nya yang baik.

Kita melihat jalan.

Allah melihat jurang.

Kita melihat batas.

Allah melihat bahaya di baliknya.

Kita melihat "Tidak."

Allah melihat alasan di balik "Tidak" itu.

Iman adalah mempercayai hikmat Allah ketika kita tidak dapat melihat apa yang Ia lihat.

Dan ketaatan adalah wujud nyata dari kepercayaan itu.

Pagar Pengaman dan Kebaikan Allah

Tragedi dosa adalah bahwa kita sering menafsirkan "Tidak" Allah yang penuh kasih sebagai bukti bahwa Ia tidak baik.

Kejadian 3 menunjukkan sebaliknya.

Batas yang Allah berikan adalah ungkapan kepedulian-Nya.

Ia telah memberikan kelimpahan kepada Adam dan Hawa. Ia bukan sedang mengambil sesuatu yang baik dari mereka. Ia sedang memperingatkan mereka tentang konsekuensi yang belum dapat mereka pahami.

Batas-batas Allah adalah ungkapan anugerah-Nya.

Perintah-Nya bukan sangkar untuk menjauhkan kita dari hal-hal baik.

Perintah-Nya adalah pagar pengaman untuk menjaga kita dari kehancuran.

Dan ini membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam:

Jika kita dapat mempercayai Allah ketika Ia berkata "Tidak", dapatkah kita mempercayai-Nya ketika kehidupan sendiri berkata "Tidak" kepada kita?

Apa yang terjadi ketika cara Allah sulit kita pahami?

Apa yang terjadi ketika waktu-Nya berbeda dari waktu kita?

Apa yang terjadi ketika kita tidak dapat melihat jurangnya?

Di situlah iman menjadi nyata.

Berikutnya: Mempercayai Kebaikan Allah →

Pertanyaan Renungan & Diskusi

  1. Mengapa penting bahwa perintah Allah dalam Kejadian 2 diberikan dalam konteks kemurahan hati yang begitu besar?
  2. Bagaimana gambaran pagar pengaman mengubah cara Anda memandang perintah Allah?
  3. Apa yang sebuah pagar pengaman nyatakan tentang apa yang diketahui oleh orang yang memasangnya?
  4. Apa yang ular coba membuat Adam dan Hawa percayai tentang Allah dalam Kejadian 3?
  5. Bagaimana ketidakpercayaan terhadap kebaikan Allah membawa kepada ketidaktaatan?
  6. Apakah masalah utama dalam Kejadian 3 hanya sekadar melanggar aturan? Apa yang terjadi pada tingkat yang lebih dalam?
  7. Bagaimana ketidakpercayaan, keinginan, dan ketidaktaatan saling berhubungan?
  8. Mengapa penting mengingat dari Kisah Para Rasul 17:24–25 bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun dari kita?
  9. Apa perbedaan antara menaati Allah karena merasa berutang sesuatu kepada-Nya dan menaati-Nya karena kita mempercayai-Nya?
  10. Apakah ada perintah atau batas dalam Firman Allah yang saat ini sulit Anda pahami atau terima?
  11. Apa artinya bertanya, "Apa yang Allah ketahui yang tidak saya ketahui?" dalam situasi tersebut?
  12. Dapatkah Anda mengingat suatu pengalaman ketika sesuatu yang awalnya terasa seperti pembatasan ternyata menjadi perlindungan Allah?